Banyak orang yang belum tahu dan bertanya – tanya mengenai transaksi yang mengandung riba serta transaksi yang benar – benar syariah. Hal paling utama yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa riba dan laba merupakan sesuatu hal yang berbeda. Jadi jangan pernah menyamakan riba dengan laba.

Sebagaimana tercantum dalam Ayat Al-Quran sebagai berikut :

 “… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… ”   (QS. Al-Baqarah : 275)

Mengapa Islam sangat melarang Riba ? Lalu Tujuannya untuk apa ?

Seharusnya kalau sudah sama – sama sepakat dan saling rela, tidak apa – apa dan tidak berdosa.

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini mari kita bahas bersama – sama dengan contoh LABA & RIBA berikut ini, supaya memudahkan pemahaman Anda :

Transaksi Yang Tergolong Riba

Anda membeli Rumah sederhana dengan nilai Harga Rp.100,000,000,- kemudian saya menjualnya dengan mengambil selisih keuntungan bunga 1% perbulan dalam jangka waktu permbayaran selama 1 tahun.

Transaksi Yang Tergolong Transaksi Syariah

Anda membeli rumah sederhana seharag Rp.100,000,000,- kemudian Anda menjualnya secara kredit selama 1 tahun dengan harga Rp.112.000,000,-

Lalu, apa perbedaannya ? Bukankah kalau kita hitung – hitung tetep saja ketemunya sama yaitu Rp.12,000,000,- ?

Mari kita bahas mengapa transaksi pertama termasuk riba dan  dalam transaksi kedua termasuk syariah.

Transaksi pertama termasuk Riba karena tidak adanya kepastian harga,

karena menggunakan system bunga yaitu bunga 1% perbulan. Jadi pada saat cicilannya disiplin, memang ketemunya adalah Rp.12,000,000,-

namun lain halnya apabila Anda mengalami keterlambata pembayaran, misalnya ternyata Anda baru bisa melunasinya setelah 15 bulan, jadi Anda akan terkena bunga sebesar 15% alias laba penjual bertambah menjadi  Rp.15,000,000,-

Itu artinya semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk melunasi hutang, maka semakin besar pula yang harus dibayar, bahkan tidak jarang berbagai lembaga keuangan ( leasing ) akan menambahkan berbagai embel – embel denda dan biaya administrasi. Maka semakin banyak pula riba yang dibayarkan.

Parahnya lagi, ada juga lembaga keuangan yang menerapkan system bunga berbunga sehingga apabila tidak terbayar akan terakumulasi dan akhirnya bunga ini juga akan dikenakan bunga lagi.

System diatas sudah sangat jelas, system yang menjamin penjual pasti untung berlipat dan pembeli adalah pihak yang paling dirugikan. Padahal dalam dunia bisnis sudah dikodratkan harus siap dengan untung dan siap dengan rugi.

Transaksi kedua Syariah Karena

Sudah Jelas akadnya dari awal dan sudah pasti tidak akan berubah lagi. Sebagaimana contoh diatas yaitu disepakati bersama harga jualnya adalah Rp.112,000,000,- yang akan dicicil selama 12 bulan.

Apabila pembeli ternyata baru mampu melunasi hutang piutangnya pada bulan ke 15, maka harga yang diberikan tetep sama yaitu 112,000,000,- dan tidak ada penambahan biaya apapun. Apalagi dengan istilah denda, biaya administrasi, atau biaya – biaya gak jelas lainnya.

Lah kalau begitu, penjual rugi dong ?

Tentunya karena bisnis itu harus siap dengan untung dan juga rugi, tidak boleh ada kata untung terus apalagi sampai merugikan orang lain sampai memerasnya. Rugi dalam dunia bisnis tapi bernilai pahala di sisi Allah.

Bisnis yang sejati adalah bisnis dengan tujuannya berbisnis dengan Allah SWT, bukan karena mengejar keuntungan dunia semata.

Kalau kita melihat ilustrasi diatas, transaksi ribawi menunjukan bahwa posisi pembeli berada posisi sangat lemah, sedangkan pada transaksi syariah, pembeli dan penjual sama – sama mempunyai kedudukan stara. Nah sekarang udah faham kan kenapa Islam sangat melarah transaksi ribawi.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares